How to Make Fun Schooling (School Rules)

Sekolah adalah lembaga pendidikan resmi yang secara sistematis melakukan program bimbingan belajar dalam rangka membantu siswa untuk mengembangkan potensinya.Sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian siswa dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku untuk mengantarkan siswa ke alam kedewasaan. Namun, di zaman sekarang ini hubungan mendewasakan berganti menggurui dan digurui. Siswa menjadi tong kosong yang bisa diisi sesuka hati pengisinya. Pendidikan hanya sekedar formalitas pengajaran saja.Sekolah tidak lagi menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa.

Faktor – faktor penyebab hal tersebut adalah:

1)      Otoritas guru yang hanya memandang siswa sebagai suatu objek dan sebagai tabularasa. Saat itulah terjadi ketidaksejajaran antara siswa dan guru sebagai makhluk sosial yang saling berinteraksi.

2)      Proses pembelajaran dari awal hingga akhir dikuasai guru,sehingga siswa tidak dapat mengekspresikan dirinya.

3)      Ketidak-enjoy-an siswa terhadap lingkungan sekolahnya.Contoh: Sekolah termasuk ruang kelas yang kumuh dan penataan yang monoton membuat siswa tidak betah.

4)      Aturan sekolah yang ketat,artinya peraturan sekolah yang detail yang menuntut banyak terhadap siswa membuat siswa ingin lari dari kenyataan.

Siswa yang belajar secara terpaksa akan berakibat buruk pada prestasi,sehingga yang perlu dipikirkan adalah bagaimana kondisi sekolah (kelas), sistem pembelajaran, peraturan sekolah dan sikap guru kepada siswa sehingga tercipta suasana belajar yang membuat siswa merasa enjoy.

Hal – Hal yang harus diperhatikan:

1)      Sikap guru terhadap siswa. Guru berperan seperti desainer yang kreatif. Dalam tahap pelaksanaan guru berperan sebagai fasilitator, dinamisator dan motivator. Dalam tahap evaluasi guru berperan untuk memberikan umpan balik. Guru dan siswa sejajar sebagai manusia yang saling berinteraksi tanpa adanya otoritas pada salah satu pihak. Selain itu, dalam proses pembelajaran memandang siswa secara merata, artinya tidak ada siswa yang lebih di-”anak emas”-kan.

2)      Lingkungan fisik sekolah. Lingkungan sekolah perlu didesain dengan pendekatan natural. Misalnya, kerindangan, kebersihan dan kerapihan lingkungan sekolah. Selain itu ruang kelas juga dibuat bersih, dingin, dan tidak monoton (Lay-out kelas dapat diubah-ubah setiap saat)

3)      Peraturan sekolah. Peraturan sekolah kiranya tidak dibuat begitu detail. Jangan sampai ada aturan yang memaksakan siswa harus begini – begitu. Contoh kasus : Rambut siswa SMK teknik. Cukup dengan memberitahu “rambutmu yang panjang bisa membuat kamu kesulitan dalam mengoperasikan mesin,bahkan bisa menyebabkan kecelakaan kerja.”

Untuk membuat sekolah sebagai istana belajar siswa yang mengasyikan, dirasa tidak terlalu membutuhkan biaya dan tenaga yang begitu banyak. Sehingga minimal dengan adanya manajemen berbasis sekolah, pihak sekolah memiliki kewenangan penuh untuk menjadikan lingkungan sekolah, guru dan pemelajaran yang menyenangkan bagi siswa, sehingga siswa tidak banyak keluar membolos atau mencari tempat-tempat yang lebih aman baginya.

Selain itu pihak Dinas Pendidikan Daerah berperan penting, terutama dalam membuat peraturan-peraturan umum tentang sekolah. Sehingga sekolah menjadi benar-benar tempat mewujudnyatakan empat pilar pendidikan (UNESCO), yakni learning to know (belajar mengetahui) learning to bicame him-/herself (belajar hidup), learning to do (belajar bekerja), dan learning to live together (belajar hidup bersama).

Dengan demikian benar-benar tercipta manusia muda (siswa) ke alam kedewasaan untuk mempertemukan dengan kodrat sejatinya kemanusiaan.

Sub-Bab: Kedisiplinan siswa

Dalam kehidupan di sekolah sering kita dengar orang mengatakan bahwa si X adalah orang yang memiliki disiplin yang tinggi, sedangkan si Y orang yang kurang disiplin. Sebutan orang yang memiliki disiplin tinggi biasanya tertuju kepada orang yang selalu hadir tepat waktu, taat terhadap aturan, berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan sejenisnya. Sebaliknya, sebutan orang yang kurang disiplin biasanya ditujukan kepada orang yang kurang atau tidak dapat mentaati peraturan dan ketentuan berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat (konvensi-informal), pemerintah atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu lembaga tertentu (organisasional-formal).

Sehubungan dengan permasalahan di atas, seorang guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri. Dalam kaitan ini, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya; setiap siswa berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula, dalam kaitan ini guru harus mampu melayani berbagai perbedaan tersebut agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal.
  2. Membantu siswa meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, jelas mereka akan memiliki standard prilaku tinggi, bahkan ada yang mempunyai standard prilaku yang sangat rendah. Hal tersebut harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha meningkatkannya, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam pergaulan pada umumnya.
  3. Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat; di setiap sekolah terdapat aturan-aturan umum. Baik aturan-aturan khusus maupun aturan umum. Perturan-peraturan tersebut harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang mendorong perilaku negatif atau tidak disiplin.

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=2384

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/04/disiplin-siswa-di-sekolah/

http://meditekom.yolasite.com/index/pembelajaran-yang-menyenangkan-dan-memberdayakan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Login

  • Comments

    A.J.I di Introduction
  • Ignatius Dhimas

  • Stage